- Buat teman teman pateron. Silahkan berikan testimoni kalian ya tentang program program yang telah kami jalankan .
- Kalian juga bisa menyampaikan kritik ataupun saran terhadap program kami.
- Jika kalian memiliki request buat next program,bisa banget nih kalian sampaikan disini .
- Terimakasih :) Semoga sukses
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Wednesday, May 30, 2018
TRY OUT
| 10:02 PM
Testimoni
Monday, May 21, 2018
Monday, November 7, 2016
Bahasa Indonesia
| 4:46 AM
Puisi Berantai Tentang Kesehatan dan Jiwa Penerus bangsa (KOCAK)
Hidup bersih adalah kewajiban yang harus kita lakukan
Kebersihan merupakan faktor utama kesehatan
Untuk itu harus dilakukan oleh
Thursday, October 6, 2016
HOT NEWS
| 1:07 AM
Puisi tentang Bencana Alam dan Analisisnya
Tsunami ?
Berawal
dari bumi yang bergoyang
Kau
bawa kepanikan
Berlanjut
ketika laut kau surutkan
Tiba-tiba,
Apa
yang terjadi?
Indahnya pantai tak ada artinya lagi
Ikan-ikan yang sekarat tak menarik
nelayan lagi
Ombak setinggi belasan meter
Ombak dengan kecepatan super
Disertai gemuruh yang membelah angkasa
Hamcurkan,
luluh lantakkan, segalanya
Tak
terhenti oleh segalanya
Tak
mengenal apa dan siapa
Kecuali...
Tuhan!
Ya!
Tuhanlah yang menciptakan ini semua
Dan nanti pada akhirnya,
Dia tunjukkan segala kebesaran-Nya
Sesuatu yang mustahil tertembus akal
manusia
Apakah
kita tetap tak sadar?
Dibutakan
oleh keindahan dunia
Hingga
Tuhanpun menimpakan adzabnya
Bukankah
Tuhan sedang mengingatkan hamba-hambanya?
Analisis
Puisi
Contoh
:
- Berawal
dari bumi yang bergoyang
Bergoyang
: gempa bumi, berguncang
- Sesuatu
yang mustahil tertembus akal manusia
Tertembus
: terpikirkan, teringat, terjangkau
- Dibutakan
oleh keindahan dunia
Keindahan
dunia : harta, hawa nafsu
- Hingga
Tuhanpun menimpakan adzabnya
Adzabnya
: bencana, tsunami, gempa bumi, penderitaan
Contoh :
- Berawal
dari bumi yang bergoyang : Tsunami ini diawali dengan terjadinya gempa bumi
- Berlanjut
ketika laut kau surutkan : Setelah gempa bumi, air laut menjadi surut
- Ikan-ikan
yang sekarat tak menarik nelayan lagi : Nelayan tidak lagi mengambili ikan-ikan
yang sedang sekarat pinggir pantai karena datang ombak besar
- Disertai
gemuruh yang membelah angkasa : Suara ombak yang sangat keras
- Dibutakan
oleh keindahan dunia : Manusia banyak yang melupakan Tuhan karena mencari
keindahan dunia dan melupakan akhirat
- Onomatome
Contoh :
Tiba-tiba,
Ikan-ikan yang sekarat tak menarik
nelayan lagi
Bukankah Tuhan sedang mengingatkan hamba-hambanya?
- Persajakan
Contoh :
... meter ...
kepanikan
... super ...
surutkan
... segalanya ... dunia
... siapa ...
adzabnya
... segalanya ...
hamba-hambanya
- Pengulangan
kata atau kalimat
Contoh :
Ombak setinggi belasan meter
Ombak dengan kecepatan super
Hancurkan, luluh lantakkan, segalanya
Tak terhenti oleh segalanya
Tak terhenti oleh segalanya
Tak mengenal apa dan siapa
_________________
_________________
_________________
_________________
_________________
__________________
__________________
__________________
__________________
__________________
_________________
_________________
_________________
_________________
_________________
__________________
__________________
__________________
_________________
_________________
_________________
_________________
- Personifikasi
Contoh :
Berawal dari bumi yang bergoyang
- Hiperbola
Contoh :
Disertai gemuruh yang membelah angkasa
Wednesday, April 13, 2016
HOT NEWS
| 6:25 PM
Prediksi Soal UN SMP/MTs 2016 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Prediksi Soal UN SMP/MTs 2016 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Tuesday, April 12, 2016
Bahasa Indonesia
| 8:24 PM
Ludwig vanBeethoven, Komponis yang Tuli
Ludwig vanBeethoven, Komponis yang Tuli
Ludwig
vanBeethoven (dibaptis 17 Desember 1770, wafat 26 Maret 1827 di Wina) merupakan
seorang komponis musik klasik dari Bonn, Jerman. Ia adalah pianis yang sangat
berbakat, musiknya sangat memukau dan orisinil. Ia dipandang sebagai satu
komponis yang terbesar dan merupakan tokoh penting dalam masa peralihan antara
Zaman Klasik dan Zaman Romantik. Ia merupakan orang terakhir dalam tiga
serangkai komponis klasik dari Wina, yakni Haydn, Mozart, dan kemudian
Beethoven.Tokoh ini sangat berjasa dalam bidang musik dan orkestra sehingga
dinobatkan sebagai urutan yang ke-42 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah
dunia yang disusun oleh Michael H. Hart.
Bahasa Indonesia
| 7:55 AM
Naskah Drama Berdasarkan Cerpen "Jakarta"
Jakarta
Totilawati Tjitrawasita
Pak Pong mengunjungi adiknya di
Jakarta. Adiknya merupakan seorang Jenderal. Pak Pong tampak kebingungan karena
ia harus mendaftar, padahal seingatnya, adiknya bukan dokter. Pak Pong : “Semua harus mengisi buku ini? Sekalipun
saudara atau ayahnya, umpamanya?”
Penjaga : “Iya, Tuan. Silakan tulis nama, alamat,
dan keperluan.”
Pak Pong : “Cukup? Dia tau siapa saya.”
Penjaga
memeriksa buku tamunya.
Penjaga : “Tanda tangannya belum, Tuan. Dan
alamatnya?”
Pak Pong : “Begini?”
Pak Pong
melamun, membayangkan reaksi adiknya, namun tiba-tiba pintu berderit. Ia
berdiri hendak menyambut adik misannya. Namun, yang keluar terjanya penjaga.
Pak Pong : “Bagaimana?”
Penjaga : “Duduklah Tuan, duduk saja. Pak Jenderal
sedang ada tamu. Tapi saya lihat Pak Jenderal heran melihat nama Bapak disitu.”
Pak Pong
kembali duduk, sambil menepuk-nepuk celanyanya yang terkena debu.
Pak Pong : “Boleh merokok?”
Penjaga : “Silakan, silakan.”
Pak Pong : “Mau? Silakan lho!”
Penjaga : “Oh, tidak terima kasih.”
Pak Pong : “Baiklah, tapi jangan paggil saya Tuan, ah.
Saya bukan Tuan. Orang awam, sama seperti Saudara. Nama saya Waluyo.
Orang-orang memanggilku ‘Pak Pong’. Lihat saja nanti, Pak Jenderalmu pasti
memanggil aku dengan ‘Pak Pong’ terlalu banyak makan singkong, kalau rakus
dikasih teletong. Ooh, sejak kecil kami memang suka berolok-olok.”
Penjaga : “Tuan, eh Pak Pong petani?”
Pak Pong : “Petani? Apa potongan saya petani? Bukan!
Tapi waktu remaja memang kami suka pencak silat. Rupanya meninggalkan bekas
juga, pada potongan tubuhku. Atau karena baju model cina ini ya? Saya, guru SD
di Desa Nggesi. Sekolah ini telah menghasilhkan orang-orang besar. Murid saya
yang pertama sekolah sudah Kapten, ada juga yang insinyur. Dan Pak Jenderalmu,
murid yang paling jempolan. Otaknya tajam sekali.”
Bel
mendadak menjerit tiga kali menghentikan dongengnya. Penjaga itu berdiri dengan
tergesa-gesa
Penjaga : “ Tunggu sebentar, mungkin Bapak sudah diperlukan.”
Penjaga
nyelonong duduk dan menegurnya, membuyarkan
angan-angan masa lalunya.
Penjaga : “Pak Pong mau minum apa? Pak Jenderal
bilang saya harus menemani Bapak, sebab Pak Jenderal lagi sibuk. Sebentar lagi
ad atamu istimewa, Pak Menteri. Minumnya apa, Pak? Juice? Coca Cola?”
Pak Pong : “Apa saja, boleh. Kopi kalau ada.”
Penjaga : “Aih, Jakarta panas, kenapa kopi? Tapi apa
Bapak Sadudaranya Pak Jenderal? “
Pak Pong : “Ya, kakak sepupu. Sejak kecil dia yatim
piatu. Ibu Bapaknya meninggal kena wabah kolera. Dia dua saudara, adik
perempuannya bernama Tinah. Lantas keduanya diambil oleh orang tua kami,
dibesarkan dalam kandang yang sama, di Nggesi. Kami memang keluarga petani,
tapi dia agak lain, otaknya luar biasa. Sejak kecil dia sudah menunjukkan
bakatnya, selalu saja dibuatnya hal-hal yang mengagumkan. Karenanya kami semua
bersepakat untuk mengirimnya ke kota, sekolah. Waktu itu kami menjual sapi dan
padi untuk ongkos-ongkosnya. Lantas saya waktu sudah jadi guru, saya kirimkan
seluruh gaji untuk biayanya, sebab di desa kami kan bisa makan apa saja. Ooh,
apa itu Pak Menteri?”
Seperti
disengat lebah, penjaga yang didekatnya meloncaat bangun, setengah berlari
menyambut tamu yang baru datang dan bergemataran ketika membukakan pintu
mobilnya.
Penjaga : “Langsung saja, Pak.”
Karena
gelisah, Pak Pong berdiri berjalan ke arah pintu. Ketika tangannya menyentuh
grendel, pintu terdorong dari dalam. Dan penjaga muncul dihadapannya.
Penjaga : “Kabar baik, Pak, kabar baik. Mereka
berdua wajahnya cerah-cerah. Menteri itu banyak duit, alamat saya kebagian
rejeki. Oo, jadi Pak Pong ini kaka misan Pak Jenderal, ya? Betul mirip memang,
dan Pak Jenderal selalu bangga pada keluarganya. Dalam pidatonya selalu
disebut-sebutnya anak desa, penderitaan rakyat, dan perjuangan melawan
Belanda.”
Pak Pong : “Ya, betul. Rumah kami pernah dijadikan
markas, waktu zaman gerilya. Masih lama ya, Pak Menteri itu?”
Penjaga : “Tidak! Asal Bapak Jenderal mau teken,
biasanya urusan selesai. Minumnya ditambah lagi ya, Pak?”
Pak Pong : “Ah, tidak usah.”
Karena
mengantuk, Pak Pong tertidur di kursinya. Tiba-tiba didengarnya kembali bel
tiga kali. Penjaga menggoncang-goncang bahunya.
Penjaga : “Giliran untuk Pak Pong. Mari saya
antarkan.”
Pak Pong
memasuki ruang tamu.
Pak Pong : “Jo....”
Paijo : “Hallo, Pak Pong, apa kabar? Saya
senang bertemu kaka disini. Bagaimana Ibu, Bapak dan Dik Tinah?”
Pak Pong : “Baik, baik, Dik, semuanya kirim salam
rindu padamu.”
Paijo : “Kakak tetap saja, penggenbira, awet
muda, bajunya potongan Cina.”
Pak Pong : “Hahaha, kamu bisa saja.”
Paijo : “Kakak nginap dimana?”
Pak Pong : “Gambir. Engkau sibuk, Dik? Ada titipan
dari Ibu.”
Paijo : “Dari Ibu? Baiklah, nanti saja.
Sebentar lagi saya harus rapat di Bina Graha. Kakak nginap di Gambir? Kalau
begitu, biarlah penjaga mengantarkan kakak ke sana. Nanti malam Kakak saya
tunggu, makan malam di rumah bersama keluarga.”
Paijo
berdiri, mengantarkan kakaknya sampai pintu.
Paijo : “Eh, kalian, kemari! Tolong antarkan
kakakku ke Gambir.”
Sopir : “Baik, Tuan.”
Mobil merah milik
Pak Jenderal meluncur melintasi kota, cepat seperti kilat.
Sopir : “Gambir sebelah mana, Pak?”
Pak Pong : “Stasiun.”
Penjaga : “Stasiun? Kiri apa kanannya, Pak?”
Pak Pong : “Tidak, di stasiunnya itulah. Jam berapa
kereta meninggalkan Jakarta? Saya tidak punya famili disini, kecuali dia.
Kasihan adikki, repot sekali kelihatannya. Tentu di rumahnya banyak tamu,
sehingga saya tidak kebagian ruang dan waktu. Kasihan adikku, seharusnya saya
tidak mengganggunya.”
Penjaga : “Pak Pong, kalau Pak Pong mau, biarlah
kita bersempit-sempit di gubuk saya. Kereta meninggalkan Jakarta baru besok
pagi, jam lima. Ada yang jalan sore, tapi karcisnya sepuluh ribu.”
Pak Pong : “Alhamdulillah. Kamu tidak keberatan,
menerima aku satu malam saja?”
Malam itu,
Pak Pong berjalan kaki, keliling kota Jakarta, ditemani penjaga.
Pak Pong : “Bukankah itu mobil Paijo? Jangan-jangan
dia menjemput aku? Kami memang sudah berjanji, jam tujuh, makan malam.”
Penjaga : “Mobil merah ratusan, Pak, jumlahnya
disini. Dan malam ini Pak Jenderal ada di istana, menyambut tamu dari luar
negeri.”
Pak Pong : “Istana? Rumahnya Presiden, maksudmu?”
Penjaga : “Ya, rumah Presiden. Nah itu, lampu-lampu
yang gemerlapan itu night club. Tahu night club? Night club, Pak, pusat
kehidupan malam di kota ini. Tempat orang-orang kaya membuang duit mereka.
Lampunya lima watt, remang-remang, perempuan-perempuan cantik, minuman keras,
tari telanjang, dan musik yang gila-gilaan. Pendeknya, yahut!”
Pak Pong : “Lantas, apa yang mereka bikin, di situ?”
Penjaga : “Berdansa, bercumbu. Biasa, Pak, Jakarta!”
Pak Pong : “Astaga, Gusti Pangeran, nyuwum pangapura.
Dan adikku apa sering kesitu?”
Penjaga : “Tidak kesitu, ke Paprika. Tapi sama saja.
Masalah karcisnya mahal di sana, enam ribu!”
Pak Pong : “Enam ribu? Sama dengan dua bulan gajiku,”
Penjaga : “Ya memang begitu, Pak. Kehidupan kota jakarta.”
Pak Pong : “Enam ribu? Sama dengan dua bulan gajiku,”
Penjaga : “Ya memang begitu, Pak. Kehidupan kota jakarta.”
Pak Pong : “Sepertinya ini lebih baik kuberikan padamu.
Kain yang dibatik oleh tangan orang tuaku. Di dalamnya terukir cinta ibu kepada
anaknya. Coretan tanah kelahiran yang dikirim untuk mengikat tali persaudaraan!”
Monday, April 11, 2016
Bahasa Indonesia
| 11:09 PM
Contoh Teks Negosiasi
Makan atau
Solat?
Rany : Van, aku lapar nih. Kamu lapar gak? Makan yuk!
Vandha : Hmm, aku juga pengen makan, tapi sekarang udah jam dua belas
waktunya solat duhur.
Rany : Trus?
Vandha : Ya kita solat dulu, Ran.
Rany : Tapi cacing di
perutku udah berteriak-teriak minta makan.
Vandha : Solat itu lebih penting, Ran. Solat itu tiang agama, jadi mending
kita solat dulu aja.
Rany : Tapi kalau lapar
solatnya jadi gak khusyuk. Jadi makan dulu aja, oke? Habis kenyang sholat kita jadi khusyuk, pahala kita jadi
lebih banyak, Van.
Vandha : Solat dulu aja, Ran.
Gimana kalau nanti pas kita makan tiba-tiba nyawa kita dicabut sama malaikat
izroil dalam keadaan kita belum solat. Kita bakalan disiksa di neraka dengan
api yang sangat panas. Sereemmmmm ><
Rany : Tapi gimana kalau
waktu solat kita mati kelaparan trus kita masuk koran “Dua Orang Pelajar
Ditemukan Tewas Mengenaskan di Masjid karena Kelaparan”
Vandha : Bagus dong, Ran.
Rany : Bagus apanya?
Vandha : Kita mati waktu solat
dan kita juga jadi terkenal, haha.
Rany : Terserah deh.
Vandha : Yaudah solat yuk!
Rany : Iya iya, yaudah deh
ayo cepetan!
Vandha : Santai aja dong, Ran.
Rany : Semakin cepat kita
solat, semakin cepat kita makan.
Vandha :
-_________________________________-
Oleh
:
1.
Rany Febriyanti Nurrachma Dewi (25)
2.
Vandhana Prasasti Salsabila (33)
Bahasa Indonesia
| 9:44 AM
Albert Einstein, sang Jenius dari Kerja Keras
TUGAS BAHASA INDONESIA
Tokoh Idola
Albert
Einstein
Penemu
Teori Relativitas
Albert Einstein adalah seorang ilmuwan fisika
teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Albert Einstein
dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman pada 14
Maret 1879 . Bapaknya
bernama Hermann Einstein, seorang penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani
pekerjaan elektrokimia, dan ibunya bernama Pauline. Keluarga mereka keturunan Yahudi. Albert
disekolahkan di sekolah Katholik dan atas keinginan ibunya dia diberi pelajaran
biola. Pada umur lima, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein
menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap
jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai
salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Meskipun dia membuat
model dan alat mekanik sebagai hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat,
kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang
jarang dan tidak biasa pada otaknya.
Di waktu kecilnya Albert Einstein nampak terbelakang
karena kemampuan bicaranya amat terlambat. Wataknya pendiam dan suka bermain
seorang diri. Bulan November 1981 lahir adik perempuannya yang diberi nama
Maja. Sampai usia tujuh tahun Albert Einstein suka marah dan melempar barang,
termasuk kepada adiknya.
Minat dan kecintaannya pada bidang ilmu fisika muncul
pada usia lima tahun. Ketika sedang terbaring lemah karena sakit, ayahnya
menghadiahinya sebuah kompas. Albert kecil terpesona oleh keajaiban kompas
tersebut, sehingga ia membulatkan tekadnya untuk membuka tabir misteri yang
menyelimuti keagungan dan kebesaran alam.
Meskipun pendiam dan tidak suka bermain dengan
teman-temannya, Albert Einstein tetap mampu berprestasi di sekolahnya.
Raportnya bagus dan ia menjadi juara kelas. Selain bersekolah dan menggeluti
sains, kegiatan Albert hanyalah bermain musik dan berduet dengan ibunya
memainkan karya-karya Mozart dan Bethoveen.
Albert menghabiskan masa kuliahnya
di ETH (Eidgenoessische Technische Hochscule). Pada usia 21 tahun, Albert
dinyatakan lulus. Setelah lulus, Albert berusaha melamar pekerjaan sebagai
asisten dosen, tetapi ditolak. Akhirnya Albert mendapat pekerjaan sementara
sebagai guru di SMA. Kemudian dia mendapat pekerjaan di kantor paten di kota
Bern. Selama masa itu Albert tetap mengembangkan ilmu fisikanya..
Pada bulan Juni ia menyimpulkan rumus termansyurnya yaitu E = mc2, yaitu bahwa massa sebuah benda (m) adalah ukuran kandungan energinya (E). c adalah laju cahaya di ruang hampa (c >> 300 ribu kilometer per detik). Massa memiliki kesetaraan dengan energi, sebuah fakta yang membuka peluang berkembangnya proyek tenaga nuklir di kemudian hari. Satu gram massa dengan demikian setara dengan energi yang dapat memasok kebutuhan listrik 3000 rumah (berdaya 900 watt) selama setahun penuh, suatu jumlah energi yang luar biasa besarnya
Pada bulan Juni ia menyimpulkan rumus termansyurnya yaitu E = mc2, yaitu bahwa massa sebuah benda (m) adalah ukuran kandungan energinya (E). c adalah laju cahaya di ruang hampa (c >> 300 ribu kilometer per detik). Massa memiliki kesetaraan dengan energi, sebuah fakta yang membuka peluang berkembangnya proyek tenaga nuklir di kemudian hari. Satu gram massa dengan demikian setara dengan energi yang dapat memasok kebutuhan listrik 3000 rumah (berdaya 900 watt) selama setahun penuh, suatu jumlah energi yang luar biasa besarnya
Pada tahun 1933, Albert beserta
keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena khawatir kegiatan ilmiahnya, baik sebagai pengajar ataupun
sebagai peneliti terganggu. Karena ketenaran dan ketulusannya dalam membantu
orang lain yang kesulitan, Albert ditawari menjadi presiden Israel yang kedua.
Namun jabatan ini ditolaknya karena ia merasa tidak mempunyai kompetensi di
bidang itu. Akhirnya pada tanggal 18 April 1955, Albert Einstein meninggal dunia
dengan meninggalkan karya besar yang telah mengubah sejarah
dunia.
Meskipun demikian, Albert sempat
menangis pilu dalam hati karena karya besarnya teori relativitas umum dan khusus
digunakan sebagai inspirasi untuk membuat bom atom. Bom inilah yang dijatuhkan
di atas kota Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II berlangsung.
1.
Identitas tokoh:
Albert Einstein, lahir pada
tanggal 14 Maret 1879 di Württemberg,
Jerman. Dia berasal dari keluarga berketurunan Yahudi. Dia adalah orang yang
terbelakang, namun dia tetap berprestasi di sekolahnya. Setelah dinyatakan
luluspada usia 21 tahun, dia mendapat
pekerjaan di kantor paten di kota Bern dan dia tetap mengembangkan
ilmu fisikanya hingga dia menyimpulkan rumus terbaiknya, yaitu E=mc2.
Pada tahun 1933, dia dan keluarganya pindah ke AS karena khawatir kegiatan
ilmiahnya terganggu. Albert meninggal pada tanggal 18 April 1955.
2. Keunggulan tokoh
Keuletan
yang dapat mengubah kehidupannya menjadi tersohor, sabar dalam menjalani
kehidupan, dan mengembangkan sesuatu yang ingin ia mengerti.
3. Hal-hal yang dapat diteladani:
Dia telah membuktikan bahwa
kesuksesan dapat diraih setiap orang, asalkan orang itu mau berusaha untuk membuat
kehidupannya lebih baik.
Nama: Ananta Bryan Tohari Wijaya
No.
Absen: 04
Kelas:
VII A

